Minggu, 26 Juni 2011

Dampak Pembangunan Pariwisata

Model kebijakan pembangunan pariwisata, idealnya mengarah kepada kesejahteraan ekonomi rakyat, memberikan manfaat secara merata dan ber-kelanjutan bagi pelestarian budaya dan lingkungan. Namun kenyataannya kini, manfaat manfaat ekonomi yang di-peroleh dari sektor pariwisata masih kerap dibarengi oleh berbagai masalah sosial-budaya dan lingkungan.


Dampak Ekonomi
Pariwisata dapat dipandang sebagai komoditi sehingga merupakan gejala ekonomi. Sebagai komoditi, pariwisata mencakup mata rantai kegiatan yang sangat panjang dan mampu menggerakkan sektor-sektor ekonomi lainnya, di samping menyerap tenaga kerja. Dampak sosial-ekonomi yang sering terjadi adalah masalah per-tanahan seperti praktik-praktik spekulasi pembelian tanah dan konsentrasi pemilikan tanah yang terpusat di tangan pemilik modal. Akibatnya, para petani yang menjual tanahnya tidak saja kehilangan lahan-lahan produktif, juga kehilangan pekerjaan sebagai petani, sekaligus me-maksa mereka mencari nafkah di luar sektor pertanian. Praktik jual-beli tanah dapat pula menimbul-kan konflik di kalangan masya-rakat berkaitan dengan pem-bebasan kawasan tertentu untuk suatu proyek pariwisata.

Dampak Sosial-Budaya
Pariwisata, selain dapat dipandang sebagai gejala ekonomi, juga sebagai gejala sosial-budaya karena merupakan fenomena interaksi lintas budaya — hubungan timbal-balik antar individu atau kelompok orang yang memiliki perbedaan identitas budaya, lingkungan sosial, sikap mental, dan susunan psikologis. Interaksi yang bersifat akumulatif dan intensif antara wisatawan dengan masyarakat setempat dapat menimbulkan dampak atau perubahan sosial budaya yang bersifat positif ataupun negatif. Dengan kata lain, interaksi lintas budaya yang muncul dalam pariwisata dapat menjadi keberuntungan atau malapetaka, dan hal ini sangat tergantung pada kebijakan pengembangan pariwisata yang diterapkan oleh pemerintah setempat.
Dampak negatif pariwisata timbul jika terjadi perubahan-perubahan yang tidak diinginkan atau merugikan eksistensi kebudayaan masyarakat setempat. Sebaliknya dampak positif muncul jika mampu memberikan manfaat bagi kesejahteraan ekonomi masyarakat, revitalisasi dan konservasi bagi eksistensi kebudayaan masyarakat setempat, serta pelestarian lingkungan.
Dampak pariwisata terhadap kehidupan sosial-budaya masyarakat Bali telah lama mendapat sorotan dari berbagai pihak. Berkenaan dengan ini dijumpai adanya perbedaan pendapat antara pihak yang berpandangan pesimis dan optimis terhadap keberadaan Bali pada masa mendatang. Pihak yang pesimis menganggap kebudayaan Bali telah mengalami komoditisasi dan kemerosotan karena banyak unsur kebudayaan yang dialihfungsikan atau dikomersial-isasikan sebagai barang dagangan.
Selain itu ada pula yang melihat perkembangan pariwisata Bali telah membawa daerah ini menjadi Eropa kedua, atau mengarah kepada fenomena Waikikianization. Sementara di pihak lain, ada pula pandangan optimis yang beranggapan bahwa perkembangan pariwisata di Bali membawa dampak positif terhadap kebudayaan setempat, yakni memperkokoh benteng pertahanan kebudayaan setempat. Keinginan besar para wisatawan untuk menikmati kebudayaan Bali melahirkan apa yang disebut sebagai involusi kebudayaan, yaitu elaborasi yang semakin baik dalam bentuk dan praktik-praktik kebudayaan, seperti apa yang tercermin dalam berbagai jenis kesenian tradisional yang kian sering dan meluas dipertunjukkan daripada beberapa tahun silam. Begitu pula pada masyarakat yang secara langsung terlibat dalam pariwisata mampu mengembang-kan lembaga-lembaga yang ada sejalan dengan tuntutan dunia pariwisata.

Dampak Ekologis
Pemanfaatan barang dan jasa baik yang disediakan oleh lingkungan alamiah maupun lingkungan sosial-budaya dapat menimbulkan dampak biofisik, terutama berkaitan dengan perubahan yang terjadi pada sistem lingkungan alamiah, baik karena rekayasa atau sebagai akibat ulah wisatawan. Perubahan ekosistem karena rekayasa merupakan tindakan yang disengaja dan secara sadar dimaksudkan untuk menambah daya tarik wisata, misalnya pembangunan berbagai fasilitas pariwisata sehingga kepuasan rekreasi yang didapat oleh wisatawan dinilai melebihi daripada sebelumnya. Namun di sisi lain perekayasaan itu dapat menimbulkan perubahan-perubahan yang tidak diinginkan, seperti gangguan terhadap ekosistem setempat. Sedangkan dampak yang ditimbulkan oleh ulah wisatawan adalah perubahan atau gangguan yang terjadi sebagai akibat dari kelakuan wisatawan, baik disadari atau tidak disadari, disengaja atau tidak disengaja, sehingga menimbulkan perubahan yang diinginkan atau tidak diinginkan terhadap ekosistem.
Dengan demikian, pengem-bangan kawasan sebagai obyek wisata dapat menimbulkan dampak biofisik, sosial-ekonomi, maupun sosial-budaya, baik yang bersifat positif maupun negatif. Selanjutnya, apapun bentuk dampak tersebut akan berpengaruh terhadap kesejahteraan masyarakat. Seperti misalnya, kerusakan ekosistem sebagai akibat kebijakan pembangunan pariwisata yang tidak memperhatikan kelestarian lingkungan maupun karena vandalisme wisatawan dapat menurunkan daya tarik ekosistem, yang pada gilirannya dapat menurunkan jumlah kunjungan wisatawan. Akhirnya manfaat yang diterima oleh pihak pengelola atau pelaku pariwisata dengan sendirinya akan berkurang. Begitu pula sebaliknya, dampak sosial-ekonomi yang memberikan kesuksesan secara otomatis akan memberikan pengaruh positif terhadap kesejahteraan yang mereka harapkan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar