Minggu, 19 Juni 2011

BAB II ASPEK GEOGRAFI SEJARAH KUNO DI PEKALONGAN

Latar Belakang Geografi
Di atas peta wilayah Kabupaten Pekalongan bak sebuah bidak catur berbentuk pendulum. Lokasi wilayah kabupaten Pekalongan yang luasnya kurang lebih 835,13 km2 itu, memiliki kontur geografis yang terdiri dari dataran rendah dan dataran tinggi.
Wilayah yang terletak di antara 60 – 70 23’ lintang selatan dan antara 1090 – 109073’ bujur timur. Dibatasi dengan wilayah dan format yang mengerucut di antara garis pantai laut Jawa Pekalongan. Dan di sebelah selatan melebar yang terdiri dari daerah pegunungan berbatasan dengan Kabupaten Banjarnegara. Sementara di sebelah timur dan barat dua buah sungai yaitu sungai Kupang atau sungai Warungasem di sebelah timur, ketika alurnya membelah kota disebut kali Loji.

Sungai ini telah menjadi batas antara wilayah Kabupaten Batang dengan Pekalongan. Sementara di sebelah barat dibatasi dengan sungai Comal dan menjadi batas wilayah dengan kabupaten Pemalang.
Meskipun demikian sesuai dengan perkembangan dan pertumbuhan sungai, yang sejak dahulu pada umumnya dijadikan batas wilayah pada masa sekarang tidak bisa dipertahankan mengingat pertumbuhan penduduk dan penggunaan lahan-lahan di sekitarnya sesuai dengan peraturan pemerintah otonomi daerah.
Dalam kontur morfologi wilayah Kabupaten Pekalongan yang terdiri dari dataran pantai dan gunung memiliki jenis tanah yang tidak sama. Meskipun keseluruhan dalam geologi batu-batuan adalah merupakan jenis miosen. Namun dilihat dari morfologi tanah dapat diketahui mengandung beberapa unsur dari kandungan tanah yang terdapat di beberapa daerah. Misalnya jenis tanah di kecamatan Peninggaran, Kandangserang, dan Doro yang daerah itu merupakan perbukitan dalam wilayah Pegunungan Rogojembangan menunjukkan jenis tanah latosal coklat. Sementara itu masih pada daerah yang sama ke arah barat di wilayah Karanganyar, Kajen, Kesesi, Sragi, Bojong, Wonopringgo, Kedungwuni, dan Tirto menunjukkan jenis tanah pada komplek Gromosal (meditarien) dan latosal coklat.
Kemudian ke arah utara, yang kontur tanahnya lebih landai dan rata (datar) seperti daerah kecamatan Sragi, Kajen, Bojong, Buaran, Tirto dan Wiradesa memiliki jenis tanah aluvial kelabu. Dari sebagian daerah itu selain aluvial kelabu ada yang berjenis coklat. Dan daerah tersebut hampir memiliki beragam jenis yang merupakan komplek dari latosal dan andusal.
Wilayah-wilayah yang terdiri 19 tingkat kecamatan dari 282 desa/ kelurahan yang ada, 6 desa merupakan desa pantai dan 276 desa merupakan desa bukan pantai. Dari persentase keletakan (topografi) terdapat 58 desa tingkat kelurahan berada di daerah dataran tinggi (20%) dan sebanyak 224 desa/kelurahan merupakan desa di dataran rendah (80%).

Geomorfologi
Hubungan keberadaan wilayah dan pertumbuhan dalam komunitas kehidupan manusia yang berlangsung dari masa ke masa berkaitan erat dengan fase-fase kesejarahan dan budaya. Pemukiman desa maupun kota di wilayah kabupaten Pekalongan sebagian besar berada di dataran pesisir (di wilayah dataran). Meskipun jumlah desa relatif lebih sedikit dibanding di wilayah dataran tinggi (pegunungan) besarnya jumlah penduduk di pantai tersebut di luar perhitungan jumlah penduduk yang berada di wilayah pemerintahan kota Pekalongan. Di dalam pengembangan pemukiman baik di desa maupun di kota pertumbuhannya hampir sama dengan wilayah lain khususnya di kota-kota di wilayah daerah eks karesidenan Pekalongan. Yang menjadi permasalahan sejak kapan dataran ini terbentuk di mana posisi garis pantai pesisir Pekalongan terbentuk hingga sekarang.
Kecuali dari sumber-sumber penelitian geologi, tidak ada sumber lain yang dapat memberikan informasi tentang pertumbuhan geologi pantai Jawa mulai dari sejak pembentukannya. Geolog pertama yang menempatkan garis pantai kuno di wilayah Pekalongan, Pemalang, Tegal dan Brebes berada di selatan, adalah Bemmelen. Yang menyebutkan bahwa dataran pesisir Jawa Tengah mempunyai lebar maksimal 40 km di selatan Brebes di lembah sungai Pemali dan menyempit hingga 20 km selatan Tegal dan Pekalongan (Bemmelen, 1949).
Tjia dkk, 1978 (dalam Ongko Songo dan Kinarti 1980 : 39-40) menyebutkan bahwa perkembangan pantai Jawa tengah utara dapat diketahui sekitar 55 – 160 meter setiap tahun. Sementara batas antara wilayah pesisir utara Jawa Tengah dengan wilayah pegunungan Serayu Utara (gunung Perahu, Rogojembangan, Dieng) di wilayah eks-karesidenan Pekalongan dan eks-karesidenan Semarang tampak merupakan kelurusan (linemaent) yang diinterpretasikan sebagai sesar atau kekar yang berkembang menjadi lembah yang lebar. Atas uraian dari penelitian Tjia dkk serta Bemmelen, Sutoto, SU mengambil kesimpulan bahwa kondisi wilayah pesisir utara pada eks-karesidenan Pekalongan akan sama dengan kondisi geologi posisi di wilayah eks-karesidenan Semarang. Batas-batas antara laut dan darat merupakan sesar (patahan). Pantai sebelum terbentuk endapan aluvial (eqsa) merupakan laut yang dalamnya 100 – 150 meter. Dan bentangan laut tersebut akan mengalami kecepatan sedimentasi aluvial yang rata-rata 8 meter pada delta-delta kecil.
Dengan analisanya Sutoto, SU telah memprediksikan bahwa kecepatan sedimentasinya di wilayah eks karesidenan Pekalongan, sesuai dengan penelitian Bemmelen bahwa pada 500 tahun yang lalu pantai Semarang berada di candi yang elevasinya 25 meter dari permukaan laut sekarang. Pada 500 tahun yang lalu di daerah Slawi, di selatan Brebes sudah maju ke arah laut akibat sedimentasi endapan aluvial vulkanik (qa) yang bersumber dari Gunung Slamet.
Pantai di daerah Pekalongan seperti Doro, Kedungwuni, Kajen, di selatan Pekalongan, maju ke arah laut akibat sendimentasi endapan aluvial vulkanik (qt) dari gunung Rogojembangan. Dengan analisa dari Bemmelen, Sutoto, SU dan Tjia dkk dapat dijadikan sumber untuk menentukan bahwa di wilayah hunian pada masa pra-sejarah sampai masa sejarah dahulunya bermukim di pantai kuno Pekalongan.
Barangkali hasil penelitian Van Bemmelen, yaitu geolog Belanda yang menempatkan batas pantai kuno (purba) jawa utara pada 1700 tahun lalu yang kalau boleh disebut sebagai garis patahan, terhadap garis pantai Jawa Tengah yang sekarang. Untuk menandai kedalaman laut pada waktu itu setinggi 150 meter, bila diukur dari kota Pekalongan saat ini berada di wilayah Kedungwuni.
Pantai purba sekarang kira-kira berada di wilayah pegunungan selatan kota Pekalongan sepanjang pegunungan Rogojembangan. Bemmelen menandai ada nama-nama pelabuhan yang ada pada pantai purba sekarang di wilayah pegunungan yaitu wilayah bukit candi di Semarang, Boja di Kendal, Celong dan Bandar di wilayah Batang, Doro di Pekalongan, dan Bumi Jawa atau Linggapura di Slawi, Tegal. Untuk membuktikan bahwa daerah tersebut dahulunya bekas laut, seorang bekas mahasiswa dari Universitas Islam Sultan Agung dan juga seorang ulama sufi Habib Syekh Ahmad Syakir telah meneliti dan menemukan fosil-fosil dari binatang purba yang ada di sekitar hulu sungai Simongan, Ungaran.
Kemudian di Pekalongan, laporan seorang geolog dari Dinas Pertambangan Jawa Tengah-Barat menyampaikan bahwa di tempat tinggalnya di wilayah Buaran Pekalongan ketika menggali sumur dengan kedalaman 3 meter sudah menemukan pasir laut dan fosil-fosil binatang laut. Pada penelitian geomorfologi yang diadakan oleh Fakultas Geologi UGM (Rosita Sari dan Efendi serta Sutoto, SU yang tidak dipublikasikan dan tidak diteruskan) telah mengadakan ekskavasi dengan membuka tespit di formasi Kajen. Hasilnya menunjukkan adanya temuan fosil laut dan keramik asing.
Dengan demikian merujuk pada teori Bemmelen yang menyimpulkan bahwa kota pantai Jawa Tengah di bagian utara Jawa Tengah sejak dari Semarang hingga Brebes, dibangun pada saat mulainya daerah tersebut sudah menjadi daratan. Berdasarkan hasil studi pustaka mengenai pembagian masa kesejarahan dapat dibagi sebagai berikut : - Masa pra-sejarah kurang lebih 3 juta tahun lalu hingga 1500 tahun lalu. Masa sejarah 1500 tahun lalu hingga sekarang. - Masa Mataram Kuno 1200 tahun lalu sampai 1000 tahun lalu dan Masa Mataram Baru 500 tahun lalu hingga 50 tahun lalu.

Nama Pekalongan Pada 1200 tahun Lalu
Pekalongan pada 1200 tahun lalu memasuki abad sejarah (masa klasik Hindu Jawa). Setelah sekitar 700 tahun sebelumnya Pekalongan berada pada masa pra-sejarah. Bersamaan dengan ramainya repatriasi para penguasa dan pendeta dari India ke Asia Tenggara, pulau-pulau kawasan Asia Tenggara yang dijadikan sasaran migrasi, salah satunya adalah pulau Jawa. Orang-orang India, baik dari Bangladesh maupun Trambalinga (Thailand) menyebutnya sebagai java dipa yang artinya dalam bahasa Sansekerta adalah pulau penghasil padi. Dan para rahib Budha di Nakon Phaton Thailand pada abad VI Masehi menyebut Sumatera dan Jawa sebagai Swarna dipa (pulau emas). Sementara itu dalam periode yang sama abad VII – VIII Masehi kekaisaran Cina yang membawahi kerajaan-kerajaan merdeka antar pulau di Asia Tenggara yang masa itu di bawah Dinasti Sung, menyebutnya sebagai Poe-Chue-Lang (Che-poe) dan Chao Ju-Kua seorang penulis kerajaan kekaisaran Cina yang pernah datang ke pulau tersebut menuliskannya di dalam karyanya Ling-wai-tai-ta tahun 1278 menyebut Poe-Chue-Lang (pulau penghasil padi) sebagai nama dari Che-poe. Pada masa Dinasti Sung abad ke VI kerajaan merdeka di Jawa setelah kerajaan Hindu Sunda Tarumanegara, di Jawa Tengah muncul kerajaan Mataram Kuno di bawah dinasti raja Sanjaya dan Syailendra. Kerajaan ini telah berjaya selama dua setengah abad dengan meninggalkan tradisi budaya jawa kuno baik berupa bangunan-bangunan monumental seperti candi maupun tradisi kuno yang bersifat agraris.
Tak ada sumber sejarah Mataram Kuno abad VIII - X Masehi baik di bawah Sanjaya maupun Syailendra memberi petunjuk tentang letak pelabuhan kerajaan Mataram Kuno Jawa Tengah. Sementara sejarah Asia Tenggara kepulauan yang memisahkan antara pulau dan pulau yang mana lautan Indonesia dan Asia Tenggara pada umumnya telah menjadi lalu lintas perdagangan inter oceanis. Perhubungan pelayaran perdagangan telah membuat hubungan perdagangan tidak hanya berlaku antar negara akan tetapi juga antar pulau.
Dengan demikian kerajaan Jawa Tengah seperti Mataram Kuno sebagai salah satu kerajaan besar di Asia Tenggara pada abad VIII tentu memiliki pelabuhan besar yang dijadikan pusat lalu lintas perdagangan maupun hubungan internasional. Kurangnya sumber-sumber mengenai pelabuhan niaga kerajaan Mataram Jawa Tengah akan sulit diketahui di mana letak pelabuhannya. Sementara itu perdagangan antar negara seperti Cina, pada periode Dinasti Sung mengenal Jawa dari hasil padi yang dikirimkan melalui pelabuhan Jawa yang disebut Poe-Chue-Lang (Che-poe). Di pantai Jawa Tengah masa kerajaan Mataram Kuno diperkirakan berada di garis pantai purba. Seperti Semarang, dahulu kala terletak pada muara sungai Simongan, Celong di wilayah Batang, Bandar di wilayah Batang, dan Doro di wilayah Pekalongan.
Nama Pekalongan adalah satu-satunya lokasi yang memiliki konotasi ejaan yang menurut sinologi pada Dinasti Sung abad XII Masehi menyebut Jawa Poe-Chue-Lang. Pada masa itu perkembangan bahasa terus berubah-ubah baik pengucapannya maupun morfologinya. Kemudian mendapat masukan dari bahasa melayu kuno dan sansekerta. Sehingga Poe di dalam bahasa Cina bisa menjadi Pa pada bahasa Sansekerta, misalnya Java Dipa yang artinya pulau, kemudian Coe pada bahasa Cina masa Dinasti Sung menjadi Java dalam bahasa Sansekerta.
Nama Pekalongan adalah hasil perubahan konsonan yang diucapkan baik yang diucapkan oleh penduduk asing, cina lokal dan pendatang maupun penduduk di negara Cina itu sendiri untuk menyebut Poe menjadi Pe, Calang menjadi Kalong, (halong) yang artinya tidak berubah sebagai pulau penghasil padi atau Coe-Poe. Oleh karena itu para arkeolog seperti Setiawati Sulaiman, sesuai dengan apa yang diucapkan Cou-Ju-Kua bahwa Coe-Pe adalah sama dengan Poe-Chue-Lang (Pekalongan). Dan pendapat ini juga didukung oleh W.P. Groeneveldt yang mengidentifikasikan toponim Poe-Chue-Lang dengan Pekalongan. Pekalongan terletak di utara barat Jawa Tengah yang pada masa abad XII Masehi, letaknya berada di pegunungan tepi pantai purba. Wilayah tersebut dapat ditengarai kemungkinan di Doro, Petungkriono maupun daerah-daerah sekitarnya termasuk Kajen atau Kedungwuni.
Mengapa Cina tetap mengenakan sebutan Pekalongan untuk pulau Jawa, bukannya Java Di seperti yang disebutkan oleh orang-orang India dan Arab pada waktu itu menyebut Jawa sebagai Za Ba yang artinya jazirah pulau seperti dikatakan oleh Abu Ziad terhadap Pulau Jawa.
Beberapa sebab dapat dikemukakan sebagai berikut, yaitu antara lain bahwa pertama, dengan kedudukan kerajaan-kerajaan di Jawa sejak masa abad VIII Masehi hingga abad XII Masehi, kerajaan-kerajaan di Jawa merupakan kerajaan yang merdeka, artinya mendapat perlindungan kekaisaran Cina. Nama kerajaan dan nama rajanya seringkali tidak dikedepankan. Raja Sanjaya disebut sebagai Ki Yen. Profil kerajaan Jawa kuno yang berada di pedalaman bersifat agraris. Di daerah pedalaman sarana dan prasarana di dalam komunikasi serta jarangnya pertumbuhan penduduk, telah menghambat lalu lintas perekonomian setempat. Kerajaan Mataram Kuno yang merupakan pusat dari masyarakat primordial agraris, sektor ekonomi perdagangan luar negri tidak menjadi prioritas utama. Di samping itu daratan terbentuk dalam bentang geografi yang berbeda-beda. Sebagian pantai purba di utara Jawa Tengah dari permukaan tanah bergunung-gunung. Dataran tingginya dipenuhi hutan-hutan karena lalu lintas perdagangan ekspor antar negara hanya dilakukan oleh keluarga raja. Pelabuhan sebagai tempat singgahnya kapal-kapal niaga tidak dibangun secara permanen sehingga pelabuhan hanya sebagai sandaran kapal-kapal yang bersifat sementara.
Pekalongan adalah nama suatu tempat (pelabuhan) di pulau Jawa yang menghasilkan padi dan rempah-rempah. Pelabuhannya lebih dikenal oleh para pedagang asing daripada kerajaannya. Bandar dan Doro yang mewakili masing-masing masa abad ke VIII dan XII merupakan pelabuhan kuno bagi kerajaan-kerajaan di Jawa.
Bandar dan Doro pada abad VIII Masehi berada di garis pantai purba. Tempat itu sekarang letaknya agak jauh dari laut, akan tetapi mungkin dahulu kala lebih dekat mengingat bertambahnya tanah ke utara akibat proses sedimentasi (Setiawati Sulaiman & Sutoto, SU). Nama Pekalongan muncul sejak hubungan dagang antara Jawa Tengah (Mataram Kuno) pada masa Dinasti Syailendra dan Sanjaya dengan kerajaan Cina masa Dinasti Sung pada abad VII – VIII Masehi dan XII Masehi.
Pada tahun 1178 Chou-ku-fei masih menyebut nama Pekalongan sebagai Poe-Chue-Lang. Mengutip karya Chou-ku-fei, pada tahun 1225, Chou-ju-kua di dalam Chu-fan-chi tetap menuliskan sebagai Poe-Chua-Lung (Pekalongan). Dengan demikian nama dan tempat wilayah Pekalongan yang menduduki daerah pegunungan Rogojembangan dan sekitarnya di garis pantai kuno seperti Doro, Talun, Kajen, Peninggaran, Lebak Barang merupakan wilayah Pekalongan yang dapat disebut sebagai wilayah Pekalongan kuno.
Dari daerah yang kita sebutkan di atas sekarang merupakan daerah tingkat kecamatan yang membawahi desa-desa yang masuk wilayah daerah Pekalongan. Daerah-daerah itulah yang pada masa abad VIII – XII Masehi telah mengalami kehidupan sebagai masyarakat jawa kuno. Masa abad VIII – XII Masehi adalah masa kehidupan budaya nusantara Hindu-Budha Jawa Tengah. Masyarakat Pekalongan kuno telah memasuki masa klasik mengikuti struktur pemerintahan yang dikuasai oleh keturunan Syailendra dan Sanjaya. Kedudukan kerajaan dimungkinkan pada awalnya berada di wilayah utara sekitar Kabupaten Batang (yaitu di daerah Limpung dan Bawang). Prasasti yang berada di desa Sojomerto kecamatan Limpung kabupaten Batang, jelas-jelas mengatakan adanya penguasa baru yang menyebut dirinya sebagai Dapunta Syailendra (tentang keberadaan dan posisi jaman Hindu-Budha di utara lihat Bab Pekalongan Pada Jaman Hindu Budha).
Prasasti tersebut berbahasa Melayu Kuno, yang isinya menerangkan riwayat keluarga Syailendra dan kedudukan sebagai penguasa di wilayah Jawa Tengah di bagian utara. Yang paling menarik perhatian adalah gelar Dapunta dan bahasa melayu yang digunakan untuk menulis prasasti tersebut. Di Jawa, gelar Dapunta oleh de Casparis digunakan oleh pembesar beragama Siwa. Di Sumatera raja Sriwijaya juga menyebut Dapunta Marhiang. Pada prasasti Sriwijaya yang berbahasa Melayu jelas gelar Dapunta Hyang digunakan oleh penguasa Sriwijaya. Mengingat prasasti Sojomerto ditulis dalam bahasa Melayu Kuno, sedangkan bahasa Melayu Kuno ialah Sumatera Selatan, oleh karena itu sejarahwan Slamet Mulyono menyatakan kiranya Dapunta Syailendra ialah orang pendatang dari Sumatera Selatan.
Prasasti Sojomerto ditemukan tepat di pertigaan jalan dua kilometer dari Limpung ke Bawang di kabupaten Batang dan ke baratnya melalui jalan kuno yang menghubungkan antara Bawang, Limpung, Reban, Bandar, Talun, Doro dan Kajen. Secara topografi jalan ini membentang menyusuri lembah-lembah kaki bukit pegunungan Rogojembangan yang kemungkinan sejak dahulu kala merupakan urat nadi untuk menghubungkan wilayah utara dan selatan. Oleh karena itu letak desa-desa masa Pekalongan Kuno sebelum terjadinya sedimentasi merupakan bagian dari kekuasaan Wangsa Syailendra. Sampai wangsa ini mengalihkan kerajaannya ke pedalaman (di wilayah Yogyakarta, akan tetapi kedudukan pelabuhannya tetap berada di pantai kuno Pekalongan dan Batang).
Diketahui bahwa Wangsa Syailendra adalah penguasa pendatang dari Sumatera Selatan yang berbahasa Melayu. Dapat dimengerti apabila pada masa Syailendra abad VII – VIII Masehi terjadi proses pemelayuan bahasa sehubungan adanya peralihan kekuasaan dari Sanjaya ke Syailendra. Karena Syailendra berasal dari masyarakat melayu perubahan nama-nama, tempat ataupun gelar jabatan kepala daerah diganti dengan nama-nama Melayu, Jawa Kuno dan Sansekerta. Bahasa Sansekerta biasanya digunakan pada tingkat-tingkat kerajaan. Pe-melayu-an nama-nama tersebut dikenakan pada nama desa atau wilayah menurut nama kepala daerahnya. Desa yang disebut Wanua dan Sima (desa tingkat Swatantra) seperti Kajen, Petungkriono, Talun, Wonopringgo, Silurah, Bandar, Doro memiliki konotasi yang berkaitan dengan bahasa Melayu, Jawa Kuno maupun Sansekerta.
Desa atau Sima biasanya memiliki kaitan dengan kegiatan masyarakatnya dalam pranata desa (wanua) Sima dan percandian tempat pemujaan ataupun pemerintahan. Seperti Silurah (Lurah) berarti lembah. Suatu lembah yang terletak di hulu sungai Kupang atau Loji di perbatasan antara wilayah kabupaten Pekalongan dan Batang. Di lembah Silurah terdapat peninggalan kuno sebagai tempat pemujaan hindu berupa kolam untuk upacara keagamaan. Rogoselo berarti kumpulan batu (bahasa Jawa Kuno). Di Rogoselo kita dapatkan peninggalan masa pra sejarah dan pada periode Islam telah dijadikan makam Islam yang disebut sebagai Syekh Rogoselo. Doro berasal dari bahasa Sansekerta Daro yang artinya lembah. Di tempat tersebut terdapat peninggalan-peninggalan Hindu-Budha dan diperkirakan merupakan pelabuhan kuno. Kajen dari kata Ka-Haji (Driya-Haji) yang artinya wilayah keluarga raja. Pada bahasa Jawa baru, Kajen diartikan sebagai Aji (berharga), suatu wilayah yang dijunjung sebagai tempat yang terhormat. Ibukota pemerintahan kabupaten Pekalongan sekarang berada di Kajen. Desa (Sima) yang letaknya lebih jauh lagi ke pedalaman mendekati dataran tinggi Dieng adalah Petungkriono. Petungkriono terdiri dari dua kata Petung dan Kriono. Petung dari kata Betung dalam bahasa Melayu Kuno yang artinya Rumpun Bambu. Nama Betung pada masa pemerintahan Mataram Kuno sering dipakai sebagai nama orang atau sungai. Kriono asal dari kata Rakyana (karayan) nama suatu jabatan kepala pemerintahan wilayah Sima. Sebutan Rakyan berasal dari kata Rakai. Jadi Petungkriono dapat diartikan sebagai nama Rakyan Betung. Dengan melihat peninggalan-peninggalannya di kecamatan Petungkriono yang terdapat beberapa fragmen candi dan arca serta lingga menunjukkan bahwa wilayah tersebut dahulunya merupakan suatu pusat pemerintahan tingkat Sima atau Swatantra, menurut sistem pola pemerintahan Mataram Kuno.
Di desa Linggo asri, Telaga Pakis, Petungkriono adalah desa-desa yang telah menjadi Sima (daerah perdikan Swatantra) yang memiliki bangunan suci. Kedua desa tersebut sebagai pusat agama dan pusat pemerintahan yang diketahui melalui bukti-bukti peninggalan purbakala tersebut di atas. di Linggoasri terdapat pura hindu yang pada tahun 1979 telah dipindahkan bersamaan dengan penduduk pendukungnya yang dahulunya tinggal di sekeliling pura. Penduduk pendukung agama Hindu, peninggalan masa lalu itu dipindahkan ke tempat yang lebih dekat dengan bangunan lingga yang merupakan peninggalan masa pra-sejarah. Menurut Haris Sukendar, pura Linggoasri yang dibangun menggunakan bahan-bahan batu kali tersebut merupakan konsep awal di dalam suatu bangunan candi pada masa peralihan dari masa pra sejarah akhir memasuki masa sejarah. Dari Linggoasri selain terdapat artefak yang terdiri dari benda-benda berupa bangunan suci atau pura sampai sekarang masih terpelihara dan digunakan oleh masyarakat pendukungnya.



Struktur Pemerintahan
Pada masa kerajaan Mataram Kuno Syailendra struktur pemerintahan berbentuk kerakaian yang mengikuti sistem kerajaan monarkhi primodial agraris yang berpusat di Jawa Tengah pedalaman. Pada masa awal pemerintahan Wangsa Syailendra di utara (di Limpung Batang) mungkin kerakaian Pekalongan langsung di bawah pusat pemerintahan kerajaan. Akan tetapi ketika pemerintahan berpusat di Ratuboko dan Dieng, kerakaian Pekalongan tidak langsung di bawah kekuasaan kerajaan akan tetapi di bawah pemerintahan para rakai yang berpusat di Parakan.
Pekalongan dipimpin oleh Rakai Rakyan Betung dengan pusat pemerintahannya di Petungkriono yang membawahi wilayah Perdikan, Desa (Wanua) dan Sima. Desa-desa atau wanua dan Sima seperti Wonopringgo, Wonoyoso, Wonokerto, Wonosegoro, Wonobodro, dahulunya adalah nama-nama desa yang kepala desanya disebut Patani. Pada masa kejayaan kerajaan Mataram Kuno Jawa Tengah, wilayah Pekalongan dengan desa-desa dan simanya merupakan tempat pemukiman penduduk yang relatif organisasinya teratur.
Sistem kemasyarakatan yang berlaku pada masa Pekalongan kuno mengikuti struktur kemasyarakatan jawa pada masa Mataram jaman hindu budha. Perekonomian penduduk sebagian besar pada sektor pertanian. Di dataran rendah terdapat pencetakan sawah secara besar-besaran sampai ke daerah pedalaman. Peninggalan-peninggalan berupa sarana pengairan seperti patung Jaladwara (saluran air) dan patung Siwa yang biasanya ditempatkan di sawah-sawah dan kebun-kebun merupakan cerminan sebagai agama yang dipeluk oleh penduduknya. Pencetakan sawah tersebut mengikuti kontur tanah yang cenderung mengarah ke utara sebagai akibat abrasi berupa rawa-rawa hingga menjadi delta-delta kemudian menjadi daratan. Hal itu terjadi setelah timbulnya pendangkalan sebagai akibat sedimentasi berupa rawa-rawa dan Pekalongan mengalami babakan baru sebagai Pekalongan baru.
Warisan budaya klasik Hindu pada masyarakat Pekalongan terutama yang ada di gunung-gunung pada peninggalan kuno yang bersifat tangible (wujud) adalah candi-candi di Petungkriono, Doro, Linggo dan arca-arca di tempat lain yang sampai sekarang masih ada. Sedangkan yang berupa intangible adalah adanya suatu tradisi masyarakat yang sebelumnya ada di lingkungan niaga di mana posisinya jauh dari wilayah primordial (kerajaan) menjadi masyarakat merdeka atau bebas dan tidak bergantung pada perlindungan pemerintahan pusat. Warisan masa klasik dan pra sejarah ikut membangun pikiran masyarakat Pekalongan untuk menggunakan kehidupan tradisi lama yang bersifat mistis dan mistik. Yang mana kebudayaan tradisi semacam itu akhirnya menjadi dasar-dasar pemikiran Jawa pada umumnya.

MUNCULNYA PEMUKIMAN BARU DI PEKALONGAN
Pekalongan Masa Abad XII – XIV Masehi
Pertumbuhan penduduk dan pemukiman mengikuti proses perkembangan dari lingkungan alam yang berubah-ubah. Diketahui bahwa Pekalongan pada abad ke XI Masehi sudah dikenal sebagai kota pelabuhan yang disebut Poe-Chue-Lang. Dan letak pelabuhan yang ada di Doro atau Jou-tung (bahasa Cina yang artinya lembah) sama dengan Doro yang artinya lembah dalam bahasa Sansekerta. Sejarah Pekalongan pada masa abad XI hingga abad XIV Masehi hampir dapat dikatakan gelap, tak ada sumber-sumber yang dapat dijadikan petunjuk untuk mengetahui perkembangan budaya masyarakat Pekalongan. Berita Cina tentang Che-Poe (Jawa) pada masa peralihan dari Dinasti T’ang ke Dinasti Sung tahun 960 – 1279 tak banyak menceritakan secara rinci tentang kota-kota pelabuhan di Jawa yang berhubungan dengan perniagaan dan pemerintahan kerajaan yang di seberang. Kronik tempatan satu-satunya yang berhubungan dengan kerajaan di Pekalongan pada abad XI kita peroleh dari naskah sunda dalam Cariosan Prabu Siliwangi. Naskah tersebut menyebutkan bahwa pada tahun 1133 dan 1533 raja-raja dari Kerajaan Pajajaran telah mengadakan hubungan persekutuan dengan raja Ponggang, Singapura, Sumedang, Kawali, Panjalu, Pekalongan dan Blambangan.
Nama Pekalongan telah memberikan petunjuk adanya suatu pemerintahan kerajaan meskipun kerajaan kecil. Kerajaan-kerajaan Ponggang, Singapura, Sumedang, semuanya berada di Jawa Barat (Sunda). Kecuali Panjalu, Blambangan dan Pekalongan yang berada di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Pada abad XI kerajaan yang dapat dikatakan berkembang hingga menguasai pantai Jawa adalah Panjalu yang berkuasa pada tahun 1178 dan Jenggala (Blambangan). Berkat kemenangan Raja Jayabaya, Kerajaan Panjalu dapat dipersatukan kembali. Kerajaan Sunda yang berdiri pada abad XI Masehi dan telah mengadakan persekutuan dengan raja Jawa Tengah seperti kerajaan Pekalongan dan Panjalu di Jawa Timur adalah kerajaan Galuh Pajajaran, yang berada di sekitar Ciamis dan Majalengka.
Raja Sunda Pajajaran yang hidup pada masa abad XI sejaman dengan Panjalu di Jawa Timur adalah Raja Bingba Sora. Raja tersebut berkuasa sebelum pemerintahan Raja Wastu Kencana, neneknda Prabu Siliwangi. Nama Bingba Sora yang diperdewakan sebagai raja Pertapa dalam prasasti Kawali Nomor 4 disebut “Sang Hyang Lingga Bingba” atau Sang Hyang Lingga Hyang (prasasti Kawali Nomor 5). Frederick dan Pleyth yang membaca isi prasasti tersebut tidak menemukan angka tahun pembuatan. Namun ia mengatakan bahwa bahwa Sang Hyang Lingga Hyang adalah simbol keagamaan mereka sebagai raja penganut Hindu-Budha Tantrayana yang diperdewakan sebagai Dewata. Raja Bingba yang menjelang akhir hayatnya menjadi pertapa dan meninggalkan putra yaitu Arya Banga dan Ciung Wanara telah menguasai sebagian dari wilayah Jawa Tengah sebelah selatan-barat. Kisah Arya Banga dan Ciung Wanara sangat dikenal oleh masyarakat Sunda maupun Jawa Tengah. Yang perlu dipertanyakan di mana letak kerajaan Pekalongan dan siapa raja yang memerintah Pekalongan pada tahun 1133 Masehi.
Tak ada sumber informasi yang lebih akurat mengenai sejarah Pekalongan pada masa abad XII Masehi kecuali dari naskah sunda tersebut di atas. Namun melihat dari struktur masyarakat yang melukiskan situasi masa Pekalongan kuno sejak awal masa pra sejarah hingga masa Mataram Kuno Jawa Tengah menunjukkan pusat-pusat pemerintahan kerajaan berada di wilayah selatan di tepian pantai kuno Pekalongan. Sesuai dengan perkembangan geomorfologi sebelum terjadinya sedimentasi pemukiman dan kegiatan masyarakat budaya Pekalongan berada di selatan yang ditengarai sebagai pelabuhan. Di wilayah Doro, Kajen, Linggoasri, Kesesi, Wonopringgo, adalah tempat bekas pemukiman kuno yang meninggalkan artefak dan memiliki indikasi dengan kehidupan masyarakat Pekalongan kuno. Nama-nama yang memiliki kaitan dengan bahasa Jawa Kuno, Melayu Kuno dan Sansekerta telah menunjukkan adanya masyarakat yang dahulunya memiliki tradisi yang kaitannya dengan tempat pemukiman masa lalu.
Selain Doro yang pada masa Pekalongan kuno memiliki indikasi sebagai pelabuhan kuno kerajaan Pekalongan pada tahun 1133 yang disebutkan dalam naskah Cariosan Siliwangi dimungkinkan terletak di wilayah Kajen. Nama Kajen memiliki konotasi dari dua bahasa yaitu bahasa Jawa Kuno dan Jawa Baru pada periode abad XVI (Mataram Islam). Kajen dari asal kata Kahaji yang artinya milik raja atau boleh disebut milik keluarga raja. Pada bahasa Jawa baru Kajen memiliki kata sifat yang berarti aji (berharga) terhormat. Kemudian mendapat tambahan en yang menunjukkan sangat berharga atau sangat terhormat. Jadi di dalam uraian yang lebih luas dapat dikatakan bahwa tanah (wilayah Kajen) karena dahulunya sebagai tempat pemukiman raja merupakan wilayah yang dijunjung tinggi atau dihormati.
Barangkali sangat tepat apa yang dikatakan oleh seorang narasumber bapak Suraji, ketika dimintai keterangan oleh pemerintah kabupaten Pekalongan menunjuk Kajen sebagai pusat pemerintahan kabupaten Pekalongan yang baru. Sekarang ini Kajen kembali menjadi pusat pemerintahan kabupaten Pekalongan yang sudah 1200 tahun sebelumnya pernah menjadi pusat pemerintahan kerajaan Pekalongan.

Menuju Pekalongan Baru
Sampai abad XIII Masehi hampir tak ada informasi mengenai kerajaan Pekalongan. Kronik tempatan maupun data-data sekunder yang dapat dikatakan sebagai sumber sejarah untuk mengetahui Pekalongan pada abad XII sampai XIII hampir dikatakan gelap. Sehingga dua abad lebih Pekalongan tidak bisa diketahui perkembangannya.
Pelabuhan Pekalongan baru diketahui setelah adanya ekspedisi Cheng Ho pada misi perjalanannya ke negeri seberang pada tahun 1431 – 1433. Kisah perjalanannya ditulis oleh Ma Huan, seorang sekretaris dan juru bahasa Cheng Ho, di dalam catatan perjalanannya ketika kembali dari Surabaya ke Palembang. Pada ekspedisi tersebut jalur yang ditempuh Cheng Ho melalui beberapa tempat di pantai utara Jawa antara lain Tamma (Demak), Wu Chueh (Pekalongan), Cheliwien (Cirebon), Ciluncha (Sunda Kelapa atau Jakarta). Wu Chueh ditafsirkan oleh K. Mills sebagai pelabuhan Pekalongan.
Pekalongan oleh penguasa Cina pada abad XI ketika kekuasaan Dinasti Sung sudah dikenal sebagai pelabuhan niaga. Akan tetapi ketika misi muhibah Cheng Ho mendarat di Pekalongan, pelabuhannya tidak lagi berada di gunung seperti yang ditulis oleh Chu-ju-kua dan Chou-ku-fei di dalam Ling-Waita-ita. Cheng Ho dengan armadanya harus memasuki muara sungai yang sudah maju ke utara sepanjang 25 kilometer (200 li) yang sudah dihuni oleh penduduk. Penduduk tersebut meliputi Cina dan orang-orang dari Arab. Mereka mendiami di sekitar sungai dan wilayah itu dikelilingi oleh hutan dan gunung yang berada jauh dari laut. Demikian Ma Huan di dalam Yang Yai Sheng Lan. Yang ditulisnya pada tahun 1451. Yang Yai Sheng Lan berarti pemandangan-pemandangan yang menawan hati mengenai pantai samudera, isinya menggambarkan akan alam dan tempat-tempat selama mereka berkunjung. Cheng Ho dalam ekspedisinya bertujuan untuk membangun hubungan antara Cina yang diperintah oleh Dinasti Ming sebagai kekuasaan baru di balik itu ada misi tertentu yang tujuannya untuk menangkap kembali Kaisar Cun Yung Wen alias Huiti dengan memperagakan kekuatan militer secara besar-besaran kepada negeri-negeri di manca negara.
Misi tersebut dilakukan Kaisar Huiti setelah adanya pergantian kekuasaan dari Dinasti Sung ke Dinasti Ming. Diketahui bahwa Huiti adalah seorang kaisar Tiongkok dari Dinasti Sung terakhir yang berhasil dijatuhkan oleh Chuti dari Dinasti Ming.
Ekspedisi maritim besar-besaran yang dilakukan Cheng Ho ke seluruh negeri dari 37 negara yang disinggahinya, di samping merupakan perjalanan diplomatik dan militer juga membawa misi dagang. Kesempatan ini juga digunakan untuk mengetahui warga Tionghoa semasa Dinasti Tang yang berada di negeri seberang. Catatan Ha Ma huan tentang keadaan penduduk dan perdagangan di pelabuhan pantai Jawa yang disinggahi hampir sama.
Di Gresik banyak sekali pedagang asing yang datang dari berbagai daerah. Batu-batu berharga dan barang-barang berasal dari luar dijual dalam jumlah besar. Penduduk Gresik sangat kaya, penduduknya kurang lebih 1000 keluarga sebahagian di antaranya Tionghoa. Di Majapahit kebanyakan orang-orang Tionghoa berasal dari pusat kerajaan Tiongkok (Ma Huan di dalam Zing Yai Seng Lan).
Di Pekalongan yang oleh Ma Huan disebut Wu Chueh sudah dijumpai adanya pemukiman penduduk Tionghoa dan Arab. Penduduk Tionghoa mendiami tempat dekat muara sungai. Jumlah penduduk Pekalongan rata-rata kurang dari 1000 jiwa. Disebutkan bahwa pelabuhan di Pekalongan mempermudah pengangkutan dari daerah gunung (pedalaman). Ma Huan tidak menyebutkan letak tata kota seperti halnya kota Majapahit yang disebutkan secara rinci. Namun sebagai tempat yang disinggahi kelompok pemukiman Tionghoa, ekspedisi besar untuk meninjau Pekalongan sebagai pelabuhan sangat penting.
Yang disebutkan Ma Huan, muara sungai yang dijadikan pelabuhan di Pekalongan adalah sungai Kupang atau sungai Loji yang merupakan penghubung pantai baru dengan daerah pedalaman. Sungai Kupang berhulu di bawah pegunungan Ragajembangan (Lembah Silurah) yang membelah perbatasan antara kabupaten Pekalongan dan kabupaten Batang. Sepanjang aliran sungai tersebut sejak dahulu kala sampai muaranya berada di pantai Pekalongan sekarang telah menjadi jalan penghubung antara Pekalongan pantai dan penduduk Pekalongan pedalaman. Pada masa kolonial muara sungai Kupang yang membelah kota Pekalongan karena melewati bangunan kolonial Belanda disebut sungai Loji.

Profil Pemukiman Pekalongan Baru
Kelompok penduduk Cina yang disebut Ma Huan pada abad XIV ketika singgah di Pekalongan itu adalah kampung Sampangan. Letaknya di dekat muara sungai Kupang atau sungai Loji. Karena di situ tempat tambatan sampan-sampan yang mengangkut barang dagangan keluar masuk pelabuhan. Kampung Sampangan sekarang juga disebut kampung Pecinan, karena sejak awal terjadinya pemukiman telah dihuni oleh komunitas masyarakat Cina. Di samping hunian komunitas Cina terdapat hunian masyarakat pribumi, Arab dan Keling. Akan tetapi tidak ada keterangan di mana kira-kira kelompok masyarakat di luar masyarakat Cina bermukim. Karena pembangunan pemukiman kota pantai di Asia Tenggara pada umumnya ada di muara sungai. Akan tetapi sulit untuk diketahui pola tata ruangnya. Sebagai pemukiman niaga kelompok pemukiman pantai pada abad XIV selalu menyertakan keberadaan pasar sebagai pusat ekonomi.
Model pemukiman niaga pantai jawa yang merupakan awal dari kota-kota niaga dapat dicontohkan seperti pelabuhan Leran. Yang pada masa abad XI pernah menjadi pelabuhan niaga bagi kerajaan Jenggala. Di Leran (Gresik) pemukiman masyarakat Cina berada di sepanjang sungai Manyar. Desa yang dihuni oleh masyarakat Cina itu disebut Kampung Pasucinan dan masyarakat lainnya khususnya pedagang asing dari Arab, Perlak dan Gujarat telah bermukim di seberangnya. Pemukiman di kampung Sampangan merupakan awal dari perkembangan kota Pekalongan, yang menempatkan sungai Loji sebagai pangkalan pelabuhan niaga. Seperti dilaporkan Ma Huan karena tidak jauh dari pelabuhan dikelilingi hutan maka dapat diperkirakan luas pemukiman Pekalongan baru terbatas di sekitar kampung Sampangan sampai kampung Arab yang berada di seberang sebelah timur sungai Loji. Di selatan kampung Sampangan sepanjang sungai Loji masih berwujud hutan. Perkembangan lanjut Pekalongan menjadi kota terjadi pada masa abad XV hingga XVI bersamaan timbulnya kota-kota pantai berkaitan dengan Islamisasi di Jawa.
Lalu siapa yang berkuasa di wilayah pelabuhan Pekalongan baru? Catatan dari Ma Huan yang melukiskan Pekalongan pada tahun 1433 tak menceritakan siapa penguasa pelabuhan Pekalongan. Kronik tempatan seperti Babad Tanah Jawi (BTJ) yang ditulis pada masa pemerintahan Mataram Islam abad XVII lebih banyak menceritakan peran para wali pada tahun 1522 ketika kerajaan Islam pertama Demak berdiri. Pekalongan oleh Adipati Mandurorejo disebut sebagai bupati Pekalongan pertama di bawah Mataram Islam Yogyakarta. Pada abad XVI (tahun 1623) ketika Mataram Yogyakarta di bawah kekuasaan Sultan Agung. Cerita tutur masyarakat Pekalongan mengenai Bahurekso dianggap sebagai pendiri kota Pekalongan pada abad XVI (tahun 1623) ketika Mataram Yogyakarta di bawah kekuasaan Sultan Agung dan kedudukan keratonnya di Kota Gede.
Kronik yang agak informatif sebagai sumber sejarah lokal Pekalongan abad XIV barangkali dapat dilihat pada naskah-naskah Cirebon. Karena sejak abad XIV Pekalongan sudah memiliki hubungan dengan Jawa Barat. Diketahui bahwa sejak abad XII Masehi ketika Pekalongan berstatus sebagai kerajaan dan mengadakan persekutuan dengan kerajaan-kerajaan Sunda status daerah pantai utara Jawa Tengah sebelah barat merupakan bagian dari kekuasaan kerajaan sunda Galuh. Status tanah Pekalongan, Batang dan Tegal adalah sebagai tanah gaduhan. Menurut de Graaf sampai abad XVI Masehi ketika Cirebon menjadi kerajaan Islam dan kerajaan Pajajaran runtuh pada tahun 1552 status tanah tersebut masih belum berubah meski Jawa Barat sudah beralih dari kerajaan Pajajaran berganti di bawah kekuasaan kerajaan Islam Cirebon. Sejak kerajaan Mataram Yogyakarta menguasai daerah pantai utara barat yang oleh kerajaan disebut sebagai daerah pesisir Kilen, Pekalongan, Batang dan Kendal menjadi bagian kekuasaan Mataram dan statusnya berubah menjadi tanah perdikan.
Hubungan Pekalongan dengan penguasa Cirebon berlangsung sejak tahun 1479 Masehi. Pekalongan, selain merupakan daerah niaga juga menjadi sasaran penyebaran agama Islam di wilayah timur (Lihat Bab Islamisasi di Pekalongan). Kronik Cirebon baik yang berupa naskah babad Kacirebonan maupun sejarah Cirebon yang ditulis oleh Wangsa Karta mengisahkan bahwa salah seorang istri dari Sunan Syarif Hidayatullah (Gunung Jati) yang bernama Ong Tien Nio salah seorang putri kaisar Cina dari Dinasti Ming, yang dikirim ke Cirebon untuk menemui Sunan Syarif Hidayatullah. Waktu putri Ong Tien Nio datang ke keraton Pakungwati, Sunan Syarif sedang menyebarkan agama Islam di Lur Agung. Atas saran Pangeran Cakrabuana (mertua Sunan Syarif) Ong Tien Nio diperkenankan menyusul ke Lur Agung. Di Lur Agung akhirnya mereka menikah. Sejak putri Ong Tien Nio menjadi permaisuri raja, ia mendapat sebutan Nyi Roro Sumanding.
Mengenai sumber tersebut H.J. de Graaf dan Pigeoud memberikan keterangan bahwa asal usul putri Ong Tien yang dinyatakan dari daratan Cina adalah untuk menarik kepercayaan masyarakat dan kewibawaan keraton bahwa ia putri dari keturunan keluarga kaisar Cina. Meskipun tidak ada sumber yang tepat terhadap asal usul putri Cina yang memasuki singgasana keraton Cirebon pada akhir abad XIV namun peranannya di dalam kerajaan Cirebon berpengaruh besar. Peran Ong Tien Nio di dalam keraton berpeluang untuk menempatkan para pejabat daerah dari kerabat cina-cina kaya untuk menjadi kepala daerah. Di Pekalongan Ong Tien Nio telah mengangkat seorang warga Cina dari keluarga Wu bernama Wu Hang. Wu Hang sebelumnya adalah kepala bandar yang menguasai lalu lintas perdagangan di pelabuhan Pekalongan.
Di dalam naskah Kertabumi dalam Gatra Sawala pada tahun 1485 daerah Pekalongan dikepalai oleh keluarga Wu dengan nama Wu Hang yang artinya memiliki keindahan melimpah. Keluarga ini mendapatkan anugerah dari sunan Cirebon karena telah berhasil menciptakan kemakmuran baik dalam perdagangan maupun dalam kerajinan batik. Demikian juga dalam penyebaran agama Islam, Pekalongan telah menjadi tempat singgah para ulama seberang yang sebelumnya berada di kota-kota pantai jawa dari Cirebon, Demak dan Gresik (Surabaya).

1 komentar:

  1. Butuh informasi jumlah sungai di kota Pekalongan ni. Terutama yang tercemar.

    zaenab.naimah@yahoo.com

    BalasHapus