Tampilkan postingan dengan label sejarah kabupaten pekalongan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sejarah kabupaten pekalongan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 19 Juni 2011

BAB VII KONSEP PEMBANGUNAN DAN PENGEMBANGAN (PEKALONGAN)

Situs Megalitik Linggo Asri
Bangunan teras berundak di Linggo Asri terletak sekitar 35 km dari ibukota Kabupaten Pekalongan (Kajen) ke arah selatan. Daerah ini terletak pada ketinggian sekitar 500 m di atas permukaan air laut. Lokasi dapat dijangkau dengan kendaraan roda 4 atau roda 2 karena tersedianya jalan besar yang menghubungkan situs dengan tempat lain. Situs terletak di suatu dataran dipinggir sungai yang banyak mengandung bahan baku untuk pembuatan megalit. Pemilihan lokasi situs Linggo Asri tampaknya juga mempertimbangkan keberadaan sungai kecil dan mata air yang berada didekatnya, di samping tersedianya bahan baku berupa batu-batu kecil dan besar sebagai bahan pembuatan dan pendirian bangunan megalitik. Keberadaan sungai atau sumber air merupakan persyaratan utama dalam pemilihan lokasi pendirian bangunan suci atau pemukiman di masa lalu (Mundardjito, l993). Dari pengamatan tim diperkirakan bahwa luas zona inti dari situs ini sekitar 1000 m2. Lahan yang dapat dikelompokkan ke dalam zona inti tersebut sekarang berupa pekarangan penduduk, dan sebagian lagi berupa lahan yang di atasnya telah berdiri rumah-rumah tinggal.


Situs megalitik Linggo Asri merupakan situs yang dapat dikelompokkan kedalam tradisi megalitik tua. Hal ini berdasarkan temuan teras berundak yang diperkirakan pusat pemujaan pada masa prasejarah. Teras berundak adalah unsur-unsur megalitik tua di samping menhir, dolmen dan batu datar (Heine Geldern, l945). Pada bagian teras ke-4 (teras atas) berdiri sebuah menhir yang berupa batu alam berbentuk lonjong yang tingginya mencapai 135 cm. Menhir ini merupakan simbol laki-laki. Dalam tradisi megalitik kelamin laki-laki dianggap merupakan salah satu bagian tubuh manusia yang dianggap memiliki kekuatan gaib yang besar. Karena kepercayaan tersebut maka kelamin laki-laki (phallus) dipergunakan sebagai sarana untuk pemujaan. Bangunan megalitik atau teras berundak berukuran antara 6,5 m X 8 m. Bangunan ini menghadap ke sebuah sungai kecil yang airnya terus mengalir sepanjang tahun, karena tersedianya mata air di bagian atas. Sungai di sini selain berfungsi dalam kaitannya untuk kebutuhan sehari-hari juga merupakan tempat sakral untuk mensucikan diri sebelum melakukan upacara atau pemujaan.
Lokasi situs teras berundak Linggo Asri berdekatan dengan situs keagamaan Hindu yang sekarang menjadi living monument, di mana masyarakat yang memeluk agama tersebut melakukan upacara keagamaannya. Kedua situs yang berlatar belakang arkeologi ini dapat dimanfaatkan sebagai obyek wisata ziarah, wisata budaya dan wisata arkeologi. Pembangunan dan pengembangan situs perlu dilakukan di situs teras berundak Linggo Asri yang tentunya dilengkapi dengan berbagai pembangunan fisik barupa talut, pagar keliling, pembuatan taman dan renovasi serta pendirian berbagai sarana antara lain bangunan informasi, dan infrastruktur lain yang penting seperti misalnya tempat parkir, restoran, dan sarana istirahat dan permainan anak.
Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa dibidang pariwisata sumberdaya budaya dan arkeologi dapat dibedakan menjadi tiga jenis obyek :

1. Sumberdaya budaya dan arkeologi yang sudah berfungsi wisata.
2. Sumberdaya budaya dan arkeologi yang masih dikemas.
3. Sumberdaya budaya dan arkeologi yang belum tersentuh oleh kepariwisataan.

Sumberdaya yang telah berfungsi sebagai obyek daya tarik wisata antara lain:
- situs Linggo Asri sebagai tempat hiburan dan rekreasi.
- situs Makam di Wonobodro untuk wisata ziarah.
- situs makam Rogoselo untuk wisata ziarah.
- situs pura Hindu di Linggo Asri untuk wisata budaya.

Sumberdaya budaya dan arkeologi yang masih perlu dikemas dan ditata :
- situs megalitik Rogoselo,
- situs megalitik Bleber,
- situs megalitik Linggo Asri.

Sumberdaya budaya dan arkeologi di Linggo Asri telah menjadi obyek wisata utama saat ini di Kabupaten Pekalongan. Sayang bahwa aset yang sangat penting yang berupa bangunan prasejarah, yang merupakan bukti sejarah telah hilang. Sedangkan bangunan berciri megalitik itu diduga merupakan bentuk awal bahkan dapar dikatakan sebagai embrio candi.
Secara jelas bangunan Linggaasri dari bagian kaki sampai bagian puncak mengingatkan pada pembagian kehidupan didunia yaitu kamadatu, rupadatu dan arupadatu. Hal ini sesuai dengan pembagian candi-candi Sailendra di Jawa Tengah Selatan.
Sehubungan dengan arti pentingnya bangunan prasejarah tersebut maka sangat perlu pembangunan kembali sesuai data dan fakta yang telah direkam secara komprehensif oleh Dr. Kusnin Asa pada taun l975-an. Hal ini untuk menghilangkan kesan bahwa Linggo Asri hanya merupakan wisata hiburan semata. Pendirian ulang bangunan megalit Linggo Asri jelas akan meningkatkan kebanggaan dan rasa percaya diri. Nenek moyang masyarakat Kabupaten Wonosobo pada jaman sebelum datangnya agama Hindu telah muncul gagasan membagi bangunan seperti yang berlaku pada candi-candi agama Hindu.
Dalam usaha memanfaatkan tradisi pra-sejarah (megalitik) di Kabupaten Pekalongan maka perlu ada program-program pelestarian dan perlindungan yang dibarengi dengan berbagai pengemasan situs. Hal-hal tersebut antara lain berupa:
- Penelitian dan penggalian warisan budaya bangsa dalam hal ini tinggalan megalitik (pra-sejarah) yang merupakan langkah pelestarian dan pengembangan.
- Melakukan pengembangan terhadap tinggalan masa prasejarah yang berupa bangunan-bangunan megalitik dengan melakukan pemugaran, renovasi, rekonstruksi, pembuatan taman (archaeological park), pembuatan Museum Terbuka (Open Air Museum), pembuatan museum lokal (site museum) dan lain sebagainya.
- Pengembangan sumberdaya arkeologi prasejarah dalam upaya pendalaman, perluasan pengkayaan substansi kebudayaan untuk mencapai kemajuan adab, budaya, persatuan, persahabatan antar suku di Indonesia dan antar bangsa. Meningkatkan kehormatan, martabat dan gengsi di mata dunia. Hal tersebut hanya dapat dicapai oleh suatu bangsa apabila bangsa tersebut memiliki bukti-bukti tentang masa lalunya yang kaya dan sarat akan nilai-nilai luhur yang tidak dimiliki oleh bangsa lain.
- Pengembangan budaya prasejarah sebagai upaya pengemasan dan penyebarluasan informasi untuk pendidikan, ilmu pengetahuan, persatuan dan kesatuan, ekonomi dan pariwisata. Pengemasan tersebut dimaksudkan untuk memberikan arti penting dan manfaat tinggalan warisan budaya bagi masyarakat pewarisnya atau bagi pemerintah daerah.

Hal ini sesuai dengan program pemerintah melalui Departemen Kebudayaan dan Pariwisata yang program-program dan kegiatannya mengedapankan pemberdayaan dan pembangunan masyarakat (community based development). Pemberdayaan dan peran serta masyarakat merupakan inti dari kebijakan pemerintah di segala bidang. Dalam hal warisan budaya bangsa masyarakat adalah pemilik dan pewaris tinggalan warisan budaya. Untuk itu maka apabila program dan kegiatan ditujukan pada warisan budaya tersebut maka usaha dan langkah-langkah utama adalah peningkatan pengetahuan masyarakat melalui tahap-tahap mempelajari, mengetahui, memahami, melastarikan dan memanfaatkan warisan budaya tersebut. Tanpa hal tersebut maka usaha pemerintah dalam memberdayakan masyarakat dalam bidang warisa budaya sulit dapat tercapai.
Hasil penelitian sejarah dan budaya kabupaten Pekalongan telah berhasil menelusuri jejak-jejak kehidupan nenek moyang masyarakat Pekalongan dari masa prasejarah, masa berkembangnya pengaruh Hindu-Budha, masa Islam dan masa-masa kolonial. Tinggalan arkeologi dan warisan budaya bangsa merupakan kekayaan (aset) daerah yang sangat penting bagi daerah, negara serta bangsanya. Berdasarkan pengamatan tinggalan arkeologi yang ada di Kabupaten Pekalongan ternyata benda-benda arkeologi di Pekalongan memiliki persamaan dengan berbagai tinggalan di kawasan luar seperti di Kamboja, Thailand, Filipina, Malaysia, Jepang, Taiwan, Korea, Mongolia, bahkan di Eropa, Perancis, Belanda, Italia dan lain sebagainya.
Temuan yang sama diantara negara-negara di bidang arkeologi ini menunjukkan bahwa tinggalan arkeologi di Kabupaten Pekalongan tidak hanya bersifat lokal, tetapi regional bahkan internasional. Hasil penelitian menyimpulkan dan menyarankan hal-hal sebagai berikut:
1. Sumberdaya budaya dan pariwisata kabupaten Pekalongan merupakan aset daerah yang sangat penting artinya yang dapat dimanfaatkan secara multidimensi maupun multifungsi, baik yang mencakup kepentingan ilmu pengetahuan, budaya, peningkatan jatidiri dan kepribadian, meningkatkan perekonomian melalui sektor pariwisata dan lain sebagainya.
2. Sumberdaya budaya dan pariwisata merupakan modal dasar pembangunan Kabupaten Pekalongan, oleh karena itu maka sumberdaya tersebut harus diteliti untuk menyusun bahan informasi sebagai wahana peningkatan pengetahuan kepada masyarakat sehingga mereka mau mempelajari, mengetahui, melestarikan dan memanfaatkan untuk peningkatan kehidupan masyarakat secara material, maupun spiritual. Untuk itu perlu diterbitkan buku acuan dan panduan serta pegangan pengelolaan dan penanganan sumberdaya budaya dan pariwisata.
3. Tinggalan sumberdaya perlu dikemas dalam bentuk pemugaran, renovasi, penamanan situs untuk keperluan ilmu pengetahuan , kebanggaan nasional, membangun jatidiri dan kepribadian, meningkatkan rasa ikut memiliki, menanamkan rasa persatuan dan peningkatan ekonomi masyarakat serta memberikan kesempatan kerja.
4. Perlu dibangun Museum Kabupaten Pekalongan sebagai cermin budaya dan peradaban yang telah dapat dicapai oleh nenek moyang dan masyarakat kabupaten Pekalongan sebagai sarana untuk melindungi, melestarikan dan memanfaatkan warisan budaya bangsa dalam berbagai kepentingan, rekreasi dan hiburan, studi kekayaan budaya bangsa dan menanamkan rasa kebanggaan nasional.
5. Menyelamatkan warisan budaya bangsa agar tidak rusak, atau hilang karena alam atau karena tingkah laku manusia yang tidak mengerti dan tidak beranggungjawab. Pengumpulan benda-banda warisan budaya dapat dlakukan baik melalui survei, ekskavasi, pembelian, hibah, penyerahan benda budaya oleh pemilik dan memberikan identitas pemilik untuk dipajang di museum sebagai ucapan terima kasih atas kerelaannya.
6. Melakukan studi kelayakan sebagai tindak lanjut penanganan dan pengemasan tinggalan budaya, arkeologi tradisi, sejarah dan pariwisata secara terpadu dengan melibatkan sektor-sektor yang terkait dengan pengembangan kepariwisataan misalnya sektor perhubungan, sektor kehutanan, pengairan, kelautan , lingkungan dan lain-lain. Studi keayakan ini akan dilanjutkan dengan program besar dan jangka panjang yang disebut dengan Wisata Taman Sailendra yang akan dipadukan dengan rencana pariwisata terpadu antara 6 kabupaten yang diduga dan diyakini memiliki sumberdaya budaya dari masa Sailendra.

Pengambangan suatu situs arkeologi tidak hanya menata, merekonstruksi, memugar membuat taman, tetapi yang lebih penting adalah pembuatan sarana dan prasarana yang berkaitan dengan tujuan pengembangan. Dalam hal ini antara lain berupa, gedung tempat istirahat, gedung informasi, tempat parkir, pertokoan, ruang penyimpanan benda temuan dan lain sebagainya.
Dalam pemanfaatan tinggalan arkeologi maupun tradisi bukan hanya mencakup tinggalan yang berujud, tetapi dalam pengembangan benda tidak berujud khususnya yang mencakup pengetahuan, nilai-norma, adat istiadat dan lain sebagainya. Dengan demikian dalam pengembangan arkeologi perlu dikaji terlebih dahulu untuk menemukan prospek yang bagaimana yang dihasilkan tinggalan tersebut sehingga dapat disusun suatu pengembangan yang konseptual sesuai potensi arkeologi yang ada.
Daftar Pustaka

Ayu Kusumawati dan Haris Sukendar,2007. Potensi Sumberdaya Pembangunan
Kabupaten Bangli, Pemerintah Kabupaten Bangli.
--------------------, 2007, Pembangunan Kabupaten Bangli Dalam Menatap masa
depan, Kantor Penelitian dan Pengembangan Kabupaten Bangli
--------------------- 2005, Pembangunan Sumberdaya Arkeologi, Budaya dan
Pariwisata Dompu, Pemerintah Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara
Barat..
Ardika,I.Wayan, 2002, Pengelolaan Sumberdaya Budaya, Dalam Kaitannya Dengan
Otonomi Daerah,, Upada Sastra
Bellwood, Peter, 1979, Mans Qonquest of the Pasific, New York.
Byung-mo Kim, 1982, ” A new Interpretation of Megalithic Monuments in Korea ”,
Megalithic Culture in Asia, Monographs No 2, Hanyang University,
Press
Colani, Madeleine, 1935,” Megalithe du Haut Laos”, Publication de L,ecole Francaise
de, Extreme Orient, vols, XXV - XXVI, Paris
Edi Sedyawati , l992, Arkeologi dan Jatidiri Bangsa, Pertemuan Ilmiah Arkeologi
VI, Batu Malang 26-30 Juli.
------------------1993, ” Arah Kebijakan Pengembangan Kebudayaan Nasional dan
Masa depan Penelitian Arkeologi di Indonesia”, EHPA, Yogyakarta

------------------ 1995 -1996, Keanekaragaman Budaya Indonesia, Kini dan Esok,
Kumpulan Makalah
------------------, 2004, Kesadaran Budaya Dalam Pendidikan, Informasi dan Industri,
Seminar Sehari Tentang Kebudayaan Makna dan Pengelolaannya,
SCIS, Jakarta 15 Januari.
Geldern, Heine R.von, 1945, ” Prehostoric Research in The Netherlands Indies”
dalam Science and Scientiest in The Netherlands Indies,New York.
Haris Sukendar, 1987, Description on the Megalithic Tradition in Indonesia, Berkala
Arkeologi
-------------------, 1987, ” Dolmen,s Decoration Pattern in Sumba, Indonesia, Berkala
Archaeologi, tahun VIII, No 2.
-------------------, 1987, ”Description on the megalithic tradition of Indonesia,
”Berkala Arkeologi.
-------------------, 1990, ”The Megaliths of Nias Island” ,SPAFA , Digest Vol XI, no
2., A Publication of the Seameo Regional Center For Archaeology
and Fine Art.
--------------------, 1992, ” The Ethnoarchaeological Research on the Megalithic in
West Timor, NRCA
--------------------, 1993, Arca Menhir dan Fungsinya dalam Peribadatan di Indonesia,
Disertasi, Fakultas Sastra Universitas Indonesia
--------------------, 1993, Dinamika dan Kepribadian Bangsa yang tercermin dalam
tradisi megalitik di Indonesia, Pidato Pengukuhan Jabatan Ahli
Peneliti Utama.
--------------------, 2003 ”Prehistoric Megalithic and Living Megalithic Tradition”, in
Indonesia, dibacakan dalam Meeting on Megaliyhic Culture-Compere
Prehistoric Ruins of the East and Europe and the International
Symposium, Jepang
Haris Sukendar, Ayu Kusumawati dan Muh.Husni, 2005, Tinggalan Arkeologi di
Sinjai dan Pembangunan Bangsa, Hasanuddin University Press
Kerjasama dengan Balai Arkeologi Makasar.
Haris Sukendar dan Ayu Kusumawati, 2005, Pembangunan Sumberdaya Arkeologi,
Budayadan Pariwisata Dompu, Pemerintah Kabupaten Dompu, Nusa
Tenggara Barat
Haryati Soebadio, Peranan Ahli Arkeologi Dalam Pembangunan Nasional
Heekeren, H.R. van, l982, ” The Bronze Iron Age of Indonesia”, Verhandelingen van
het Koninklijke Instituut voor Taal, Land en Volkenkunde, vol XXII,
The Hague, Martinus Nijhoff
Heine Geldern, R.von, dan Loeb EM, 1935 The Archaeology and Aryt of Sumatra,
pp 305-331
Heine Geldern,R,von, Prehistoric Research in the Netherlands Indies, Science and
Scientist in the Hoskins, Janet Netherlands Indies, New York,
Hoop, A,N,J,Th.A.Th van der, l935, Megalithic Remains in South Sumatra, Trans by
W. Shirlaw, Zuthpen, W.J. Thoieme.
Hoop.A.N.J. Th.a Th van der, 1935, Steenkistgraven in Goenoeng
Kidoel,IIILV,vol75.
Kaudern Walter, 1938, ” Megalithic Finds in Central Celebes”, Goteborg,
Ethnografical Studies in Celebes,
Kodiran, 2003, ” Potensi Konflik Dan Strategi Integrasi Bangsa Dalam Masyarakat
Majemuk di Indonesia”, dalam Dinamika Budaya Lokal Dalam
Wacana Global, Unit Pengakajian dan Pengembangan Fakultas Ilmu
Budaya, UGM.
Loofs HH, 1967, Elements of he Megalithic Complex in Southeast Asia an Annotated
Bibliography, Australian Nas. Univ, Press , Canberra
Mundardjito, 2002, Pertimbangan Ekologis, Penempatan Situs Masa Hindu-Buda di daerah Yogyakarta, Wedatama Widya Sastra, Ecole Francaise d,Extreme Orient,
Jakarta,
Marzuki Usman, 1999, Kebijaksanaan Pemerintah di Bidang Pariwisata, Seni dan
Budaya, Makalah Ceraman Diklat Spamen Angkatan IV ,Lan RI
Perry,W.J, 1918, The Megalithic Culture in Indonesia, Manchester,
Perry, W.J., 1923, The Children of the Sun, A study in the EarlyHistory of
Civilizatrion, London, : Methuen and Co Ltd.
QuaritchWales, HG, 1953, The Mountain of God, London” Bernard Quaritch Ltd,
Grafton Street, New Bond Street
R.P. Soejono, 1977, Sistim-sistim penguburan pada masa akhir prasejarah di Bali,
disertasi Universitas Indonesia,
Syaukani H.R.,H,2006, Pendidikan Paspor Masa Depan, Prioritas Pembangunan
Dalam Otonomi Daerah, Penerbit Nuansa Madani, Jakarta
T. Jacob, 2003, ” Dinamika Budaya Infranasional dan Supranasional”, dalam
Dinamika Budaya Lokal Dalam Wacana Global. Unit Pengkajian
dan Pengembangan Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah
Mada.
Timbul Haryono, 2003, Pengembangan dan Pemanfaatan Aset Budaya Dalam
Pelaksanaan Otonomi Daerah, Rakor Kebudayaan dan Pariwoisata,
Jakarta 25 s/d 27 Maret
Wiryopranoto, Suhartono, 2003,” Budaya Lokal Dalam Proses Global Resistensi dan
Kolaborasi, dalam Dinamika Budaya Lokal Dalam Wacana Global,
Unit Pengkajian dan Pengembangan Fakultas Ilmu Budaya, UGM.


BAB III MASA PRASEJARAH DI KABUPATEN PEKALONGAN

Sejarah budaya Kabupaten Pekalongan pada dasarnya bukan hanya berfungsi untuk mengetahui dan memahami sejarah kehidupan masyarakat Pekalongan semata. Tetapi hal yang mendasar adalah bagaimana sejarah Kabupaten Pekalongan dapat membangkitkan kesadaran terhadap nilai-nilai luhur dan jiwa patriotisme dalam mencapai cita-cita nasional. Nilai-nilai luhur dimaksudkan adalah segala aspek kehidupan manusia yang berkaitan dengan kepribadian, jatidiri, kebersamaan dan gotong royong, dalam usaha pembangunan bangsa (nation building).

Tinggalan warisan budaya (cultural heritage) dalam bentuk berbagai bangunan atau benda masa prasejarah (prehistoric period) di Kabupaten Pekalongan begitu penting. Benda-benda prasejarah memegang peranan dalam pemahaman dan pengembangan sejarah, ilmu pengetahuan dan kebudayaan bahkan sektor yang lain (multisectoar).
Perlu diketahui bahwa keberadaan bangunan-bangunan megalitik (megalithic monuments) di daerah Kabupaten Pekalongan memberikan ciri keunikan, kelangkaan, kemegahan, keistimewaan bagi daerah sehingga tidak jarang membuat wilayah tersebut menjadi daerah yang dikenal dan mempunyai daya tarik wisata. Keberadaan benda tinggalan masa prasejarah yang bersifat monumental ini dapat mendukung aktivitas pengembangan kepariwisataan. Di lokasi-lokasi yang dekat dengan bangunan prasejarah tentu dapat dikembangkan dalam bentuk sarana-sarana penyediaan fasilitas untuk kepariwisataan antara lain untuk penginapan, pertokoan penjualan cinderamata, sarana transportasi, restoran dan lain sebagainya. Karena arti pentingnya tinggalan masa prasejarah (arkeologi) di Kabupaten Pekalongan ini maka perlu sosialisasi kepada masyarakat serta apresiasi agar muncul gairah keikutsertaan masyarakat melestarikannya guna kepentingan sektor kepariwisataan dalam membantu ekonomi daerah (lokal).
Pada dasarnya Kabupeten Pekalongan memiliki keragaman budaya dan yang paling menonjol adalah seni batik, disamping tinggalan warisan budaya yang tersebar dibagian selatan wilayah ini. Oleh karena itu Kabupaten Pekalongan memiliki sejarah dan karakteristik yang menjadi keunikan, kekhasan yang keberadaannya mencerminkan citra kota Pekalongan (image of the city).
Masa prasejarah adalah suatu masa sebelum ditemukan peninggalan tertulis. Oleh karena itu maka dalam usaha mengungkapkan manusia dan budaya prasejarah, dilakukan dengan bersumber pada tinggalan yang berupa artefak maupun ekofak . Artefak masa prasejarah terdiri dari berbagai macam antara lain alat-alat paleolitik (alat-alat batu masif), kapak neolitik, dolmen (meja batu), nekara perunggu, arca megalitik, arca menhir, menhir dan lain sebagainya. Hasil-hasil aktivitas kehidupan manusia misalnya tulang-tulang bekas makanan, kerang, dan sisa-sisa makanan lainnya, tulang binatang dan manusia yang biasanya disebut dengan ekofak juga dapat dipergunakan sebagai data dalam penelitian prasejarah. Penelitian tinggalan prasjarah juga memanfaatkan disiplin lain yang menunjang seperti geomorfologi, antropologi ragawi, kimia dan lain-lain. Masa prasejarah di Indonesia dapat dibagi menjadi:
1. Masa Paleolitik (masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat sederhana).
2. Masa Epipaleolitik (mesolitik) atau masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat lanjut.
3. Masa Neolitik (masa bercocok tanam).
4. Masa Paleometalik (bronze iron age) yang berkembang bersama tradisi megalitik.
Tinggalan arkeologi prasejarah di Kabupaten Pekalongan didominasi oleh tinggalan dari masa tradisi megalitik yang tersebar di perbukitan atau dipegunungan. Tinggalan dari masa –masa paleolitik yang merupakan masa tertua dengan ditandai bentuk-bentuk alat batu masif seperti kapak perimbas (chopper) kapak penetak (chopping-tool) belum berhasil ditemukan. Demikian juga hasil budaya masa epipaleolitik yang biasanya dapat dijumpai di gua-gua dan ceruk tidak ditemukan. Ketiadaan sumberbahan untuk pembuatan benda-benda neolitik seperti jenis batuan kwarsa (batuan kapur) menyebabkan tidak ditemukannya tanda-tanda keberadaan budaya neolitik. Bentuk-bentuk kapak batu (beliung) yang oleh masyarakat biasa disebut dengan ”gigi gledeg” tersebut tidak berhasil ditemukan.
Sementara di Kabupaten Pekalongan tinggalan tradisi megalitik diperkirakan muncul pada masa paleometalik atau masa perunggu besi (bronze iron age) pada sekitar 1500 SM – 500 Masehi. Secara tipologi tradisi megalitik di Pekalongan dapat dikelompokkan ke dalam bangunan megalitik yang berfungsi untuk pemujaan arwah leluhur. Sampai saat ini tinggalan megalitik masih ada yang dimanfaatkan sebagai tempat pemujaan, untuk memohon perlindungan, keselamatan kesuburan dan lain sebagainya. Hal ini dapat diketahui dengan informasi para sesepuh di situs teras berundak desa Rogoselo. Di samping bukti aktivitas pemujaan yang terdiri dari berbagai sisa-sisa ubarampe sesaji, seperti bunga yang telah mengering dan sisa pembakaran kemenyan.
Sumberdaya arkeologi prasejarah di Kabupaten Pekalongan merupakan aset daerah yang sangat berharga. Tinggalan prasejarah terdiri dari berbagai bentuk megalit yang tersebar di perbukitan bagian selatan daerah ini. Kemajemukan tinggalan arkeologi terdiri dari benda-benda yang berasal dari berbagai periode, seperti prasejarah, perkembangan agama Hindu-Budha, perkembangan Islam Awal, bahkan masa kolonial. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa kabupaten Pekalongan merupakan daerah ”multi component site”. Tinggalan megalitik merupakan warisan nenek moyang yang dominan dan merupakan bangunan monumental yang mempunyai fungsi ganda secara multidimensional dan multisector. Dalam perkembangan dunia masa kini, tinggalan purbakala atau biasa disebut benda cagar budaya banyak yang dimanfaatkan sebagai sarana untuk modal dasar pembangunan. Tinggalan prasejarah Kabupaten Pekalongan dapat dimanfaatkan dalam peningkatan ilmu pengetahuan, peningkatan jatidiri dan kepribadian, pariwisata, ekonomi dan lain-lain. Tinggalan prasejarah terdiri dari tinggalan yang berujud (tangible) dan tinggalan tidak berujud (intangible). Benda-benda yang bersifat tangible erat kaitannya dengan pengembangan pariwisata dan pengetahuan sementara benda yang bersifat intangible berkaitan erat dengan nilai-nilai kehidupan ”adiluhung”. Dalam peningkatan nilai luhur bangsa, tinggalan arkeologi memiliki nilai-nilai kemandirian (lokal genius) yang dapat membangun jatidiri dan karakter budaya (cultural caracter) dan identitas budaya bangsa, (cultural identity). Seorang ahli arkeologi Grahame Clark mengatakan bahwa arkeologi (termasuk prasejarah) memiliki bukti-bukti yang dapat memperkuat ”sense of belonging”. Sementara rasa ikut memiliki sangat diperlukan dalam pembangunan bangsa (nation building). Budaya kabupaten Pekalongan pada dasarnya merupakan hasil budaya yang tidak hanya bersifat lokal, tetapi memiliki sifat nasional, regional bahkan internasional. Secara nasional budaya kuno di Pekalongan yang muncul dalam bentuk bangunan-bangunan batu besar dapat memberikan sumbangan yang besar dalam pembinaan dan pengembangan budaya nasional (budaya bangsa). Nilai-nilai yang melekat pada bangunan-bangunan megalitik dan hasil budaya masa lalu lainnya akan memperkaya perbendaharaan budaya bangsa.
Kemajuan pariwisata yang telah berhasil menyedot jutaan dolar pertahun di Mesir, India, Thailand, China, Jepang dan lain-lain sangat ditopang oleh anekaragam tinggalan arkeologi (diversivikasi hasil budaya). Perubahan paradigma kehidupan di negara-negara maju di Eropa maupun Amerika dimana kehidupan rutinitas yang dimotori oleh kemajuan teknologi yang luar biasa, telah memposisikan tenaga manusia sebagai robot . Hal ini akan membuat kejenuhan dan kejemuan masyarakat negara maju. Oleh karena itu mereka kehilangan jatidiri dan kepribadian. Akhirnya mereka lari mencari jatidiri dan kehidupan asli. Sementara yang asli hanya terdapat pada tinggalan-tonggalan arkeologi (purbakala). Hal ini menyebabkan mereka banyak yang berkunjung ke situs-situs arkeolgi diberbagai penjuru dunia.
Tinggalan megalitik di Kabupeten Pekalongan merupakan modal dasar dalam pengembangnan kepariwisataan antara lain dapat dijadikan, sebagai obyek wisata arkelogi (archaeological tourism), maupun sebagai obyek wisata budaya (cultural haritage tourism) Hal ini dapat dimengerti karena tinggalan arkeologi memiliki nilai keunikan, kelangkaan, keistimewaan, keaslian, nilai historis dan lain-lain yang merupakan daya tarik utama dalam pariwisata. Demikian pula tinggalan megalitik di Kabupaten Pekalongan.