Tampilkan postingan dengan label ekowisata petungkriyono. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ekowisata petungkriyono. Tampilkan semua postingan

Selasa, 07 Juni 2011

PETUNGKRIONO ; PUSAT PEMERINTAHAN PEKALONGAN KUNO



Oleh : Drs.Miftahussalam,M.Si



a.Toponimi Petungkriono
Toponimi yaitu nama-nama tempat dimuka bumi yang berasosiasi dengan peristiwa sejarah masa lampau. Untuk mengetahui Toponimi biasanya dilakukan dengan pendekatan ilmu etimologi yaitu ilmu tentang asal-usul arti kata, begitu halnya dengan Petungkriono yang berada di Kabupaten Pekalongan bisa kita lakukan pengkajian lewat ilmu etimologi.

Menurut Etimologi, Petungkriono terdiri dari kata Petung dan Kriono. Petung dari kata Betung dalam bahasa Mealyu Kuno yang artinya rumpun bambu. Nama Betung pada masa pemerintahan Mataram Kuno sering dipakai sebagai nama orang atau nama sungai, sedangkan nama Kriono asal dari kata Rakyana (karayan) nama suatu jabatan kepala pemerintahan wilayah Sima. Sebutan Rakyan berasal dari kata Rakai.
Dengan demikian berdasarkan kajian diatas, dapat kita tarik kesimpulan bahwa Petungkriono dapat diartikan sebagai nama Rakyan Betung, Dengan melihat fakta lapangan bahwa peninggalan-peninggalan di Petungkriono terdapat beberapa fragmen candi dan arca serta lingga, hal itu menunjukkan bahwa Petungkriono dahulunya merupakan suatu pusat pemerintahan tingkat Sima atau Swatanta,menurut pola MataramKuno.

b.Potensi Alam dan Budaya
Petungkriono terletak ditengah-tengah jalur wisata alam dan budaya dari Jogja-Borobudur-Magelang–Wonosobo-Banjarnegara-Pekalongan dan Jakarta dan merupakan letak strategis jalur wisata pantura dari Surabaya-Semarang-Pekalongan-Jakarta.
Dengan letaknya yang strategis itu ternyata juga, Petungkriono merupakan salah satu bagian dari kawasan Dieng yang kaya dengan potensi alam dan Wisata Budaya .Selain kawasan hutan yang masih luas (kurang lebih 6000 Ha),habitat bagi kehidupan satwa endemik dilindungi disana seperti elang jawa, owa,surili,macan tutul dan macam kumbang.Hal menarik lain adalah apabila dilihat secaa bioregion kawasan Petungkriono juga memiliki posisi penting sebagai cathment area (daerah tangkapan air) dengan sungai Kupang dan sungai Sengkarang yang menjadi sumber kehidupan bagi daerah-daerah dibawahnya yaitu Kabupaten Pekalongan sendiri, Kota Pekalongan, Batang dan Banjarnegara.
Apabila dilihat dari Situs Budaya. Petungkriono juga memiliki nilai histories/kesejarahn yang cukup penting di Jawa. Yaitu berupa peninggalan sejarah dari masa kerajaan Mataram Hindu (abad VII sampai abad IX M) seperti Situs Nogopertolo, (lingga-Yoni), Situs Gedong, situs candi,dan beberapa peninggalan sejarah dari masa kerajaan Islam (petilasan Kyai Bagus (didusun Kambangan desa Tlogopakis dan Kyai Wendran didusun Dranan desa Yosorejo.
Nilai-nilai dan kesenian lokal yang masih dipertahankan di Petungkriono seperti Nyadran Tlogo, Nyadran Bumi, Kesenian ronggeng, kuntulan, jaran embig (kuda kepang), tradisi gedig ( berburu babi hutan).

c. Peninggalan Benda Cagar Budaya (BCB) di Petungkriono
Adapun peninggalan-peningan situs-situs di Petungkriono adalah sebagai berikut;
a. Situs Linggo Yoni
Situs ini berlokasi di dusun kambangan desa Tlogopakais, Sudah diadakan kegiatan antara lain; pendataan penyelamatan Tahun 1990/1991, pendataan Benda Cagar Budaya (BCB) Tahun 1993/1994 dan pengadaan juru pelihara Tahun 1982/1983.
Pada lokasi situs itu terdapat satu buah lingo yoni, dan 2 (dua) buah arca.

b. Situs Linggo Yoni (Naga Pertala)
Situs ini berlokasi didusun Tlogopakis desa Tlogopakis.
Pada lokasi situs terdapat hiasan Kepala Naga dibawah cerat Yoni, tubuh naga melingkar dibawah badan Yoni, naga memakai anting-anting kalung (kluntingan), lidah menjulur keluar daengan hiasan daun, terdapat dua buah lingo semu diatas cerat yang berada dikomplek situs lingo yoni.
c. Situs Arca Ganesha
Situs ini berlokasi di desa Tlogopakis,.terdapat warna abu kehitam-hitaman pad situs ini, dan terletak berada pada situs lingo yoni.

d. Y o n i
Lokasi situs ini berada didusun Tlogopaskis desa Tlogopakis. Kondisi sekarang Situs ini dalam keadaan ambruk ditengah sawah yang dulu diperoleh lewat cara hasil ekskavasi/survey.
e. 2 Lumpung
Lokasi situs ini berada didusun Kambangan desa Tlogopakis, di Situs ini terdapat warna abu-abu kehitam-hitaman yang menurut keterangan, kedua lumpung batu ini berada pada situs Gedong yang merupakan hasil ekskavasi/survey.

d. Petungkriono Masa Syailendra ( abad ke-VII-IX M )
Keturunan Dapuntra Syailendra yaiatu Sanjaya penganut agama hindu adalah merupakan cikal bakal dari mataram kuno yang mendirikan pusat kerajaan di Pekalongan pada pertengahan abad ke-7, terletak di Limpung Kabupaten Batang dibuktikan dengan adanya prasasti Sojomerto.Diduga lokasi kerajaan Sanjaya dahulunya terletak diantara Limpung dengan pantai utara sebelah timur kota Batang yang dulu sebelum Batang menjadi Kabupaten merupakan wilayah Pekalongan. Kemudian pusat kerajaan Sanjaya bergeser keselatan disebelah selatan pegunungan Dieng, yaitu Kedu Selatan sebagai sebagai bukti ditemukannya Prasasti canggal pada tahun 732 M di Desa Kadilluwih Kecamatan Salam Kabupaten Magelang. Lokasi ini berbatasan dengan wilayah Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Diwilayah Kabupaten Pekalongan hanya ditemukan sebuah prasasti Rabwan yang ditemukan di Petungkriono bentuknya genta perungu . Genta ini dipahati tulisan jawa kuno, tepatnya di Desa Tlogo pakis ditemukan pada tahun 1952 yang wujudnya berupa genta perungu. Sekarang artepak ini ini disimpan di Musium Jakarta. Isinya menyebutkan bahwa Rakyan I Wungkaltihang bernama Pu Wirakrama mempersembahkan sebuah genta perungu kepada Bhatara Sang Lumah I Rban pada tahun 905M.

e. Petungkriono Pusat Pemerintahan Pekalongan Hindu Kuno
Struktur Pemerintahan masa kerajaan Mataram kuno Syailendra adalah Pusat Pemerintahannya berada di Ratu Boko dan Dieng. Sedangkan kerakaian Pekalongan pada saat itu tidak langsung dibawah kekuasaan kerajaan, akan tetapi dibawah pemerintahan para Rakai yang bertempat diparakan Temanggung. Pekalongan pada waktu itu dipimpin oleh Rakai Rakyan Betung dengan pusat pemerintahannya di Petungkriono.
Sebagai pusat pemerintahan, Petungkriono membawahi wilayah perdikan, Desa (Wana) dan Sima. Desa-desa atau Wana dan Sima itu adalah nama sekarang merupakan sebuah kecamatan di Kabupaten Pekalongan seperti Wonopringgo, Wonokerto. Dahulunya adalah nama-nama desa yang kepala desanya disebut Phatani
( Penulis adalah Kasi Sejarah dan Purbakala Dinas Pemuda, Olahraga, Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Pekalongan )

Minggu, 11 April 2010

PERENCANAAN PASAR DAN POTENSI EKOWISATA PETUNGKRIYONO KABUPATEN PEKALONGAN



PERENCANAAN PASAR DAN POTENSI
EKOWISATA PETUNGKRIYONO KABUPATEN PEKALONGAN

A. Pendahuluan
Petungkriyono merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Pekalongan yang berlokasi di lereng Gunung Ragajembangan pada ketinggian 900 – 1600 dpl. Kawasan ini berupa pegunungan yang sejuk dengan beraneka kemolekan dan keindahan alam yang sangat mempesona dan tepat untuk dijadikan tempat wisata.

B. Kondisi Existing Ekowisata Petungkriyono
Dari Kota Kajen sebagai ibukota Kabupaten Pekalongan, Petungkriyono berada di sebelah selatan dengan jarak 30 km dan dapat dicapai dengan kendaraan umum melalui Kecamatan Doro. Lokasi Petungkriyono berada + 40 dari obyek wisata Dataran Tinggi Dieng yang dapat dicapai dari Kota Wonosobo dan Bajarnegara melalui jalur Sibebek-Gumelem atau Kalibening-Simego.
Perbukitan dengan tutupan hutan alam yang menghijau lebat menjadi suguhan utama ketika memasuki Petungkriyono. Di beberapa lokasi seperti di Desa Sokokembang dan Curugmuncar, tampak pula lairan-aliran sungai jernih menyususri lembah serta air terjun yang mencurah dari tebing-tebing perbukitan, yang semakin menambah kemolekan alam kawasan ini. Terdapat tujuh air terjun di Petungkriyono yang sering dikunjungi wisatawan yakni Curug Muncar, Curug Banteng, Curug Lawe, Curug Kedunglumbu dan Curug Sibedug. Petungkriyono meliputi areal seluas 5000 ha dikenal sebagai daerah rimbawan yang masih kaya dengan berbagai macam satwa yang hampir punah seperti elang Jawa, owa, surili, macan tutul dan macan kumbang.
Potensi Ekowisata Petungkriyono yang telah mulai dikembangkan sejak Januari 2006, ternyata hanya berjalan di tempat. Pengelolaan yang diharapkan dapat dilaksanakan dengan baik, ternyata mengalami banyak hambatan. Di samping SDM yang belum siap dari sisi pengetahuan, manajemen, ketrampilan ekowisata dsb, juga ditambah belum nampaknya usaha untuk mempromosikan potensi tersebut kepada pasar yang ada.
Oleh karena itu hal utama yang perlu dilakukan adalah penetapan pola manajemen yang jelas dalam pengelolaanya, promosi yang terarah dan lebih memberdayakan masyarakat yang ada di kawasan ekowisata. Dalam makalah ini akan difokuskan pada promosi untuk mengangkat potensi tersebut menjadi sumber pendapatan, baik bagi daerah Kecamatan Petungkriyono maupun tumbuhnya ekonomi masyarakat sekitar serta pelestarian alam dan konservasi hayati yang ada.

C. Pemasaran Terfokus
Kawasan Ekowisata dikelola bersama masyarakat yang tergabung dalam LMDH bekerja sama dengan Perum Perhutani, Pemda Kabupaten Pekalongan dan LSM KF (Comunity Forestry).
Ekowisata Petungkriyono termasuk jenis wisata minat khusus sehingga pangsa pasar yang dibidik adalah wisatawan tertentu yang memiliki kepekaan pada lingkungan ataupun diharapkan menjadi peka dan cinta pada lingkungan sekitar.

D. Permasalahan
Pada prinsipnya, masalah yang signifikan dalam pengembangan kawasan ini sebagai kawasan ekowisata adalah akses masuk yang relatif susah. Kendaraan yang tersedia tidak begitu mencukupi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat karena terbatasnya jumlah kendaraan dan jam operasi. Kondisi yang demikian menyebabkan kurangnya minat masyarakat regional untuk datang berkunjung. Yang pada akhirnya berimbas pada jumlah kunjungan wisata.
Sampai sekarang Kawasan ekowisata masih menghadapi kendala, dimana masyarakat dalam hal ini LMDH belum siap secara manajemen untuk mengelola, sehingga diperlukan bimbingan teknis secara terpadu. Masyarakat kurang terlibat karena ekowisata belum secara riil bermanfaat secara ekonomi, sehingga perlu diupayakan peningkatan kesadaran masyarakat secara berkesinambungan.
Selain itu kendala yang lainnya adalah sarana prasarana pendukung belum representatif. Melihat kondisi dan lokasi yang berjauhan sedang akses masih cukup sulit, sehingga pengunjung yang datang belum dapat menikmati secara nyaman fasilitas yang telah dibangun dalam tahap pertama.

Pemasaran dilakukan dengan promosi obyek wisata baru ke berbagai pihak antara lain bekerjasama dengan Dinas Pendidikan Nasional Kabupaten Pekalongan ke sekolah sejalan dengan program pendidikan lingkungan yang sedang dikembangkan. Sasaran pasar yang akan dikerjakan adalah siswa SD, SLP dan SLA di Wilayah sekitar Kabupaten Pekalongan dengan target utama pada hari-hari libur sekolah.
Dalam jangka panjang, target pasar yang akan dicapai dalam jangka panjang adalah wisatawan asing, dengan metode promosi yang dikembangkan dan pemasaran berupa paket wisata dengan Kantor parbud,Perum Perhutani, Biro Wisata maupun dengan biro perjalanan maupun paket-paket wisata penelitian ke berbagai negara diharapkan jumlah pengunjung meningkat 10% pertahun dari jumlah pengunjung yang ada pada saat ini.